NONTON DI WISATA 21: BIOSKOP LEGENDARIS YANG PERNAH “MATI” LALU HIDUP LAGI
https://www.instagram.com/p/DfLmiSoGLSr/?psln=cGxkNHQybm5vNjZu
Denpasar punya cerita bioskop yang nyeleneh. Dulunya ada Wisata 21 di Jalan MH Thamrin yang jadi tempat nongkrong wajib anak kota. Film-film India era 80-an jadi andalan. Amitabh Bachchan? Sering. Shashi Kapoor? Juga sering. Suasana? Riuh, penuh poster, popcorn yang harum di lorong.
Dari yang rame ke yang sepi: kenapa Wisata 21 tutup?
1. Era 1980-an: panggungnya film India
– Wisata 21 populer di era 80-an karena sering memutar film India. Penonton setia datang berjajar membeli tiket.
– Lokasinya jelas: Jalan MH Thamrin No. 69, kawasan Lokitasari.
2. Awal 2000-an: masa krisis bioskop
– Industri bioskop di Bali sempat menyusut. Saat itu tersisa dua gedung yang masih beroperasi: Wisata 21 dan Galeria 21.
– Penonton makin berkurang. Alhasil pada 2008 Wisata 21 menutup pintu.
Kalimat pendek. Fakta simpel. Penutupan pada 2008 bukan rumor. Itu garis waktu yang tercatat.
Kebangkitan: Wisata 21 hidup lagi jadi Denpasar Cineplex
1. 2013: bangunan direvitalisasi
– Pemerintah Kota Denpasar mengambil langkah revitalisasi bekas gedung Wisata 21.
– Tahun 2013 gedung itu dibuka kembali dengan nama Denpasar Cineplex.
2. Kenapa ini beda?
– Penawarannya lebih murah. Banyak anak muda bilang tiketnya ramah kantong.
– Di platform media sosial, rekaman mencatat kisaran harga tiket: sekitar Rp20.000 untuk weekday/Deluxe, Rp25.000 weekend, dan opsi Executive sekitar Rp30.000. Angka ini tercatat dalam konten TikTok.
Bangkitnya bukan hanya ganti nama. Ruang yang dulu sepi berubah jadi alternatif nonton yang terjangkau.
Denpasar Cineplex: siapa yang suka dan kenapa?
1. Anak muda
– Alasan utama: harga. Kalau mau nonton tanpa bikin kantong bolong, pilihannya jelas.
– Atmosfernya juga lebih santai dibanding mall bioskop besar.
2. Komunitas lama
– Untuk sebagian penonton yang tumbuh bersama Wisata 21, pembukaan kembali terasa nostalgik.
– Mereka ingat antrean tiket, poster film India besar-besar, dan suara pintu bioskop yang klasik.
3. Pelancong lokal
– Lokasi di pusat kota membuatnya mudah dijangkau warga Denpasar yang ingin nonton film lokal atau film mainstream tanpa harus ke mal besar.
Jadi: apa yang berubah setelah revitalisasi?
1. Fisik gedung
– Ruang dipoles ulang. Tidak lagi sebagai Wisata 21 yang tua.
– Nama baru: Denpasar Cineplex. Identitas lama bertemu wajah baru.
2. Harga dan akses
– Tiket lebih terjangkau dibanding bioskop mall besar. Ini membuat frekuensi kunjungan naik, khususnya di kalangan pelajar dan mahasiswa.
3. Program pemutaran
– Tidak ada klaim spesifik tentang jadwal film klasik atau fokus genre tertentu setelah buka ulang. Hal ini perlu dicek langsung ke bioskop bila ingin tahu lineup film saat ini.
Kalau penasaran soal program film atau fasilitas (misalnya kursi, sound, atau snack bar), sebaiknya cek update dari pihak bioskop sebelum berangkat. Beberapa detail operasional tidak selalu dipublikasikan secara luas.
Kenangan yang masih hidup: apa yang orang kangenin?
1. Film India era 80-an
– Banyak yang masih bercerita soal pengalaman nonton Amitabh Bachchan di layar besar.
– Musik, dialog, dan cara penonton bereaksi waktu itu jadi bagian memori kolektif.
2. Ritual nonton
– Beli tiket, ngantri di loket, ngobrol sebelum masuk studio. Hal-hal sederhana yang bikin momen nonton terasa penting.
3. Perasaan punya tempat sendiri
– Untuk generasi itu, Wisata 21 bukan hanya gedung. Ia semacam titik temu budaya pop lokal.
Wisata 21 sempat tutup pada 2008 karena penonton menipis. Namun setelah direvitalisasi oleh Pemerintah Kota Denpasar, gedung itu hidup lagi pada 2013 sebagai Denpasar Cineplex dengan tiket yang lebih terjangkau. Cerita ini soal bagaimana ruang publik bisa berubah fungsi, hilang, lalu kembali dengan wajah baru, tetap menyimpan banyak memori lama.
Kamu pernah nonton di Wisata 21 atau Denpasar Cineplex? Film apa yang bikin kamu masih ingat sampai sekarang? Ceritakan di kolom komentar.