Kasanga Festival 2027: Tema “Dharani Kertih Amertani Jagat” dan Ogoh-ogoh sebagai Suara Lingkungan
Pembuka: apa yang terjadi di Denpasar hari ini
Forum Group Discussion (FGD) Kasanga Festival 2027 dilaksanakan di Gedung Dinas Kebudayaan Kota Denpasar pada 13 Oktober 2026. Di sini, panitia, komunitas seni, dan yowana bertemu untuk mengarahkan tema festival yang dipilih: “Dharani Kertih Amertani Jagat”, yang menyatakan bumi sebagai sumber kehidupan. Bayangkan sebuah rapat perencanaan seperti bengkel seni: setiap peserta membawa bahan, sketsa, dan ide; diskusi merapikan bahan-bahan itu menjadi satu karya terpadu.
Kenapa tanggal penting? Menetapkan FGD pada 13 Oktober 2026 menandai tahap formalisasi arah tema; ini memberi panitia rentang waktu tertentu untuk mengolah hasil diskusi menjadi panduan resmi menjelang festival. Angka tanggal ini memberi kerangka waktu yang konkret untuk perencanaan, bukan hanya gagasan tanpa tenggat.
Apa maksud tema “Dharani Kertih Amertani Jagat”?
Tema ini menegaskan posisi bumi sebagai sumber kehidupan. Untuk menjelaskannya lebih sederhana: anggap bumi seperti wadah air yang menampung segala kebutuhan hidup, jika wadah itu retak, semua yang ada di dalamnya akan terdampak. Dengan memakai ogoh-ogoh sebagai medium, yowana diajak untuk menerjemahkan isu lingkungan menjadi bentuk visual dan narasi.
Pertanyaan yang dijawab sendiri: Kenapa menggunakan istilah itu? Karena frase tersebut memusatkan perhatian pada hubungan manusia dengan alam, sehingga setiap karya yang dibuat diharapkan mengandung pesan tentang keseimbangan alam. Ini bukan hanya soal estetika ogoh-ogoh, melainkan cara menyampaikan gagasan lingkungan kepada masyarakat luas melalui seni.
Ogoh-ogoh: dari tontonan menjadi medium edukasi dan panggilan bertindak
Ogoh-ogoh diartikan dalam diskusi sebagai lebih dari pajangan: ia menjadi medium edukasi dan ajakan bertindak. Analogi: ogoh-ogoh yang dibuat dengan pesan lingkungan ibarat poster kampanye bergerak, lebih mudah menggaet perhatian karena bentuknya tiga dimensi dan bisa dipamerkan di ruang publik.
Bagaimana ogoh-ogoh bisa berfungsi seperti itu? Dengan menanamkan elemen narasi dalam desain, misalnya simbol krisis air di bagian tubuh figur, atau penggunaan material daur ulang untuk menegaskan pesan soal sampah. sebagai gambaran praktis bahwa FGD ini memutuskan arah tema sehingga lomba ogoh-ogoh dan pameran akan mengacu pada pesan-pesan lingkungan yang telah disepakati.
Langkah operasional: dari FGD ke panduan tema resmi
Hasil FGD akan diproses menjadi panduan tema resmi Kasanga Festival 2027. Itu berarti ada alur pengerjaan yang jelas: panitia mengolah masukan, merumuskan pedoman teknis, lalu berkolaborasi dengan komunitas seni untuk pelaksanaan lomba, pameran, dan kegiatan pendukung. Bayangkan proses ini seperti pembuatan resep masakan: diskusi adalah pengujian rasa, panduan adalah resep final, dan pelaksanaan adalah saat hidangan disajikan ke publik.
Pertanyaan operasional yang penting dan jawabannya: Bagaimana kolaborasi berjalan? Panitia dan komunitas seni akan bekerja sama memastikan pesan lingkungan tersampaikan. Pernyataan ini berasal dari hasil FGD dan menjadi dasar kerja, bukan asumsi. Aspek lain yang tidak dibahas dalam FGD, seperti kebutuhan logistik detail atau pendanaan spesifik, perlu dicek lebih lanjut oleh panitia sebagai langkah validasi.
Isu lingkungan yang diangkat: fokus dan cakupan
Tema ini mendorong yowana mengekspresikan beberapa persoalan lingkungan lewat ogoh-ogoh, yakni:
1. Perubahan iklim
– Pesan visual dapat menunjukkan dampak cuaca ekstrem pada masyarakat.
2. Krisis air
– Simbolisasi air kotor atau sumur yang mengering bisa jadi elemen desain.
3. Deforestasi
– Penggunaan motif pohon yang hilang untuk menonjolkan kerusakan hutan.
4. Sampah
– Material daur ulang sebagai bagian konstruksi ogoh-ogoh.
5. Eksploitasi alam
– Representasi praktik eksploitasi untuk memicu diskusi publik.
Setiap poin di atas bertujuan memberi ruang interpretasi kreatif untuk yowana. Analogi ringkas: ini seperti daftar bahan tema yang harus ada saat menyusun karya, koki (yowana) bebas berkreasi tetapi tetap mengacu pada bahan utama yang telah ditentukan.
Jadwal singkat dan implikasinya
Tahapan awal persiapan disebutkan dimulai pada 11 Oktober 2026 di Aula Dinas Kebudayaan Kota Denpasar, lalu FGD dilanjutkan pada 13 Oktober 2026. Menyebut tanggal 11 dan 13 Oktober menunjukkan proses berkelanjutan; secara praktis ini berarti panitia sudah memasuki fase konsultasi awal sejak beberapa hari sebelumnya. Angka-angka tanggal ini membantu pembaca memahami bahwa persiapan festival berjalan bertahap dan terjadwal.: detail anggaran, kebutuhan teknis pameran, atau regulasi operasional yang lebih spesifik tidak dirinci dalam hasil FGD; aspek-aspek tersebut harus dipastikan kemudian oleh panitia dan komunitas seni.
apa yang bisa diharapkan dari Kasanga Festival 2027
Kasanga Festival 2027 bergerak dengan tema yang menempatkan bumi sebagai sumber kehidupan dan mendorong ekspresi isu lingkungan melalui ogoh-ogoh. Hasil FGD di Gedung Dinas Kebudayaan Kota Denpasar menjadi dasar bagi pedoman resmi yang akan digunakan dalam lomba, pameran, dan kegiatan pendukung. Analogi penutup: jika festival adalah panggung, maka ogoh-ogoh yang sarat pesan lingkungan adalah naskah yang menyampaikan pesan penting kepada audiens.
https://www.instagram.com/reel/DeWjsXBPryh/?srtk=MTc0N2Rmcnp2cTE2NA==