Garuda Wisnu Kencana (GWK) Cultural Park: sejarah singkat, fakta utama, dan kontroversi
GWK Cultural Park di Ungasan, Kabupaten Badung, Bali, dikenal sebagai kawasan budaya dengan patung Garuda Wisnu Kencana sebagai ikon pusat. Artikel ini menyajikan ringkasan faktual tentang patung, proses pembangunan, pihak-pihak terkait, serta beberapa sengketa yang tercatat dalam catatan publik.
Sekilas tentang patung dan perancangnya
1. Ikon utama
– Patung Garuda Wisnu Kencana menggambarkan Dewa Wisnu sedang mengendarai burung Garuda. Informasi ini tercantum dalam catatan proyek dan dokumentasi publik.
– Tinggi patung diperkirakan sekitar 121 meter termasuk alas, angka yang tercantum dalam ringkasan resmi proyek dan beberapa publikasi lokal.
2. Perancang
– Patung dirancang oleh pematung I Nyoman Nuarta asal Bali, sesuai dengan catatan sejarah perkembangan proyek.
3. Material dan berat
– Struktur patung dibuat dari material seperti tembaga dan kuningan. Berat bangunan dilaporkan lebih dari 3.000 ton menurut data yang tersedia tentang konstruksi.
Kronologi pembangunan (poin penting)
1. Awal gagasan dan pra-konstruksi
– Ide pembangunan patung dikaitkan dengan I Nyoman Nuarta pada akhir abad ke-20. Beberapa catatan menyebut gagasan muncul pada 1989 dan mendapat restu pada 1990.
– Catatan lain yang ada menyajikan klaim berbeda tentang tahun awal gagasan, termasuk sebutan 1977; variasi ini tercatat sebagai perbedaan klaim antar sumber.
2. Peletakan batu pertama dan jeda proyek
– Peletakan batu pertama tercatat pada 8 Juni 1997. Pelaksanaan proyek kemudian sempat berhenti karena krisis moneter 1997–1998, menurut kronologi yang tersedia.
3. Upaya kelanjutan dan pengambilalihan
– Pada 2006 ada upaya pemerintah untuk melanjutkan proyek, namun masalah pendanaan masih dilaporkan menghambat penyelesaian.
– Sejak 2012 lahan dan pengelolaan proyek diambil alih oleh PT Garuda Adhimatra Indonesia, anak usaha PT Alam Sutera Realty Tbk; perusahaan ini melanjutkan dan menyelesaikan pembangunan hingga tahap peresmian.
4. Peresmian dan kegiatan pasca-pembangunan
– Pemasangan mahkota Dewa Wisnu dan upacara Melaspas tercatat pada 22 September 2018, dan acaranya dihadiri oleh Presiden Joko Widodo menurut rekaman peristiwa peresmian.
– Kawasan GWK digunakan untuk acara internasional, antara lain KTT G20 pada November 2022 dan World Water Forum pada Mei 2024, sesuai dengan jadwal acara yang tercatat untuk lokasi tersebut.
Pihak kunci dan peran mereka
1. Tokoh dan lembaga
– I Nyoman Nuarta: perancang ide dan pematung utama.
– Pemerintah pusat pada beberapa masa: terlibat dalam pemberian restu awal dan upaya kelanjutan proyek pada 2006.
– PT Alam Sutera Realty Tbk / PT Garuda Adhimatra Indonesia: pengambil alih lahan dan pengelola sejak 2012 yang menyelesaikan pembangunan.
– Presiden Joko Widodo: tercatat meresmikan pemasangan mahkota pada 2018.
– Warga Ungasan serta DPRD Badung dan DPRD Bali: terlibat dalam sengketa terkait akses dan pembangunan tembok di kawasan, sebagaimana dilaporkan dalam perdebatan publik.
Sengketa lokal terkait akses dan batas kawasan
1. Inti protes
– Warga Ungasan memprotes pembangunan tembok di sekitar kawasan GWK yang dianggap menghalangi akses masyarakat lokal. Perlawanan ini sempat dibawa ke DPRD Badung dan DPRD Bali menurut catatan laporan terkait konflik tersebut.
2. Sikap pengelola
– Pengelola menyatakan bahwa tembok dibangun di atas lahan perusahaan dan bahwa sosialisasi telah dilakukan sebelum pelaksanaan, klaim yang juga muncul dalam dokumentasi peristiwa.
3. Status
– Persoalan ini tercatat sebagai isu kontemporer yang masih diangkat oleh masyarakat dan lembaga daerah; rincian penanganan administratif atau hukum tercatat pada tingkat pemerintahan daerah.
Catatan tentang variasi penulisan sejarah
1. Perbedaan tanggal awal gagasan
– Beberapa sumber memberikan tahun gagasan yang berbeda, antara lain 1977 dan 1989. Perbedaan ini tercatat dalam bahan referensi yang menghimpun sejarah GWK.
– Pembaca yang membutuhkan detail kronologi lengkap disarankan menelusuri dokumen arsip proyek dan publikasi resmi untuk rekonsiliasi tanggal.
Kesimpulan
Garuda Wisnu Kencana Cultural Park di Ungasan menonjol karena patung yang dirancang oleh I Nyoman Nuarta, dengan tinggi sekitar 121 meter dan konstruksi berbahan tembaga serta kuningan yang dilaporkan memiliki berat lebih dari 3.000 ton. Proyek melewati fase jeda panjang akibat krisis moneter akhir 1990-an, kemudian dilanjutkan dan diselesaikan setelah pengambilalihan pengelolaan oleh pihak swasta pada 2012; peresmian pemasangan mahkota tercatat pada 22 September 2018. Kawasan ini juga menjadi lokasi kegiatan internasional dan mengalami konflik lokal soal akses yang sempat dibawa ke DPRD daerah.