Desa Wisata Penglipuran: Sejarah, Lokasi, dan Daya Tariknya
Penglipuran sering muncul dalam daftar tujuan wisata di Bali karena reputasinya untuk kebersihan dan tata ruang tradisional. Julukan sebagai salah satu desa terbersih di dunia dilaporkan oleh media nasional, dan desa ini juga tercatat menerima beberapa penghargaan lingkungan dan pariwisata. Artikel ini merangkum sejarah, lokasi, serta daya tarik khusus Desa Wisata Penglipuran untuk pelancong yang ingin memahami desa sebelum berkunjung.
Sejarah singkat Desa Penglipuran
Asal-usul nama dan penduduk
Nama Penglipuran berasal dari dua kata, pengeling dan pura; pengeling bermakna pengingat (dari eling/ingat) dan pura berarti tempat suci leluhur. Penelitian sejarah lokal menyebutkan Desa Adat Penglipuran sudah ada sejak era Kerajaan Bangli sekitar 700 tahun lalu, dan para pendahulu desa berasal dari Desa Bayung Gede, Kintamani. Pada masa lalu, para perantau sering singgah di wilayah yang disebut Kubu; jarak tradisional antara Bayung Gede dan Kubu dicatat sekitar 25 kilometer, sehingga komunitas Bayung di Kubu akhirnya membentuk desa baru yang kemudian menjadi Penglipuran.
Pembentukan tata ruang adat
Walau memisah administrasi dari Bayung Gede, tata ruang dan konsep desa Penglipuran mengikuti pola leluhur mereka. Konsep Tri Mandala diterapkan: Utama Mandala (area suci dan tempat sembahyang), Madya Mandala (pemukiman), dan Nista Mandala (pemakaman). Sistem ini masih menjadi kerangka struktur ruang desa hingga kini.
Lokasi dan tata ruang desa
Akses menuju Penglipuran
Desa Wisata Penglipuran berada di Kecamatan Bangli, Kabupaten Bangli, Provinsi Bali. Jarak dari Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai sekitar 60 kilometer dan biasanya ditempuh sekitar 1 jam 30 menit dengan mobil menurut informasi instansi pariwisata setempat. Waktu tempuh bisa berbeda tergantung kondisi lalu lintas dan rute yang dipilih.
Luas wilayah dan komposisi lahan
Penglipuran berdiri di atas lahan seluas sekitar 112 hektar. Pembagian lahan yang tercatat meliputi:
- Lahan pertanian
- Sekitar 50 hektar untuk area pertanian sawah.
- Hutan bambu
- Sekitar 45 hektar hutan bambu penuh nilai estetika dan ekologi.
- Hutan kayu
- Lebih kurang 4 hektar.
- Pemukiman warga
- Sekitar 9 hektar untuk area hunian.
- Tempat suci dan fasilitas umum
- Sekitar 4 hektar untuk pura dan fasilitas publik.
Data ini menunjukkan ruang hijau di desa lebih luas dibandingkan area pemukiman.
Daya tarik Desa Penglipuran
- Kebersihan dan penghargaan
- Media nasional mencatat pengakuan terhadap kebersihan Penglipuran, termasuk penghargaan bidang lingkungan seperti Kalpataru, perolehan ISTA (Indonesia Sustainable Tourism Award), dan masuk dalam Sustainable Destinations Top 100 menurut Green Destinations Foundation. Penghargaan ini sering dijadikan referensi oleh penyelenggara pariwisata.
- Nilai adat dan pura
- Penglipuran menampilkan beberapa pura penting, antara lain Pura Penataran, Pura Dalem, dan Pura Puseh. Struktur pura dan praktik ritual memberikan gambaran langsung tentang tata adat desa yang masih aktif.
- Ritual dan festival
- Ritual Ngusaba yang digelar menjelang Hari Raya Nyepi termasuk upacara yang menarik bagi pengamat budaya. Desa juga rutin menyelenggarakan Penglipuran Village Festival pada akhir tahun, dengan kegiatan seperti parade pakaian adat, pementasan seni, dan lomba tradisional.
- Aktivitas wisata dan homestay
- Sejumlah warga menyediakan opsi menginap di rumah penduduk, memungkinkan wisatawan merasakan pengalaman tinggal di lingkungan adat. Selain itu, pengrajin lokal menawarkan bengkel singkat pembuatan kerajinan bambu yang bisa diikuti pengunjung.
- Kuliner lokal
- Ada dua hidangan lokal yang kerap direkomendasikan: loloh cemcem, minuman rempah dari daun cemcem (kloncing), dan tipat cantok, hidangan ketupat dengan sayur rebus dan bumbu kacang. Kedua makanan ini disebutkan sebagai bagian dari pengalaman kuliner desa.
- gambaran alam
- Hutan bambu seluas sekitar 45 hektar dan sawah yang luas memberi peluang berjalan kaki santai dan fotografi gambaran desa.
Praktikal: tiket, aturan, dan catatan kunjungan
- Tiket masuk
- Tarif yang dipublikasikan di situs resmi desa adalah:
- Wisatawan lokal: Rp15.000 untuk dewasa dan Rp10.000 untuk anak usia di atas 2 tahun.
- Wisatawan mancanegara: Rp30.000 untuk dewasa dan Rp25.000 untuk anak-anak.
- Kebijakan tarif dapat berubah; disarankan memeriksa harga terkini sebelum berangkat.
- Akses dan waktu kunjungan
- Akses utama dengan kendaraan darat; waktu tempuh dari bandara biasanya sekitar 1 jam 30 menit. Informasi jam buka pintu masuk tidak tercantum secara rinci dalam ringkasan publik, sehingga pengecekan jadwal operasional direkomendasikan.
- Penginapan dan fasilitas
- Homestay tersedia melalui warga desa; jumlah dan fasilitasnya bervariasi menurut pemilik rumah. Ketersediaan dan tarif homestay perlu dikonfirmasi langsung dengan pengelola lokal atau lewat kanal resmi pariwisata.
- Perilaku di tempat suci
- Pura di desa adalah fasilitas ibadah; pengunjung yang ingin memasuki area pura umumnya mengikuti aturan berpakaian adat atau menerima kain/sash dari pengurus pura saat kunjungan. Ketentuan rinci biasanya diatur oleh pengelola setempat.
Intinya
Desa Wisata Penglipuran menawarkan kombinasi tata ruang adat Tri Mandala, kebersihan yang diakui secara nasional dan internasional, ritual budaya yang terjadwal, serta aktivitas hands-on seperti homestay dan kerajinan bambu. Lokasi di Kabupaten Bangli dengan luas lahan sekitar 112 hektar menegaskan karakter desa yang masih terbuka ruang hijaunya. Untuk rencana kunjungan, catatan utama adalah memastikan tarif tiket dan ketersediaan layanan penginapan sesuai informasi terbaru sebelum berangkat.