Monumen Puputan Badung: Jejak Sejarah Denpasar

Monumen Perjuangan Puputan Badung di Lapangan I Gusti Ngurah Made Agung

Monumen Perjuangan Puputan Badung berdiri di pusat Kota Denpasar, tepatnya di Lapangan I Gusti Ngurah Made Agung yang juga dikenal sebagai Lapangan Puputan Badung. Menurut informasi resmi Pemerintah Kota Denpasar, monumen ini selesai direvitalisasi dan diresmikan pada Jumat, 14 November 2025, bertepatan dengan Hari Suci Sugihan Bali. Monumen difungsikan sebagai penanda sejarah dan ruang edukasi publik untuk mengenang rangkaian peristiwa yang terkait dengan Puputan Badung 1906.

Jejak sejarah yang diperingati

https://www.instagram.com/reel/DdanoWYT9t_/?stkn=MWd4NDUycGlxNGRidQ==

Peristiwa yang dimaknai lewat monumen ini tercatat dalam beberapa momen kronologis penting. Catatan sejarah yang dikompilasi menyebutkan alur kejadian berikut:

1. 27 Mei 1904
– Kapal Srikomala terdampar di Pantai Sanur; muncul tuduhan perampokan terhadap warga Sanur.

2. Setelah insiden Srikomala
– Para punggawa dan rakyat Sanur menghadap Raja I Gusti Ngurah Made Agung di Puri Denpasar untuk menyatakan keberatan dan bersumpah tidak ada perampokan.

3. 14 September 1906
– Invasi militer Belanda dimulai; wilayah Sanur hingga Puri Kesiman mengalami penyerangan.

4. 19 September 1906
– Raja menggelar pelebon kakanda dan upacara mepepegat; ribuan warga disirati tirta pangentas sebagai persiapan menghadapi konflik.

5. 20 September 1906
– Raja Denpasar bersama pasukannya berangkat ke medan perang dengan pakaian dan perhiasan terbaik; puri dibakar atas perintah; pertempuran besar berlangsung dan Puri Denpasar runtuh.
– Perlawanan berlanjut di sekitar Tukad Badung dan Puri Pemecutan; dalam bentrokan, seorang pemimpin pasukan Belanda tewas di atas kudanya dan pasukan Belanda menunggu bantuan dari Sesetan.

Keterangan sejarah ini merujuk pada narasi yang dipublikasikan oleh sumber pemerintah daerah, yang juga menjelaskan peran tokoh-tokoh utama seperti I Gusti Ngurah Made Agung, para punggawa Sanur, dan pasukan kolonial Belanda.

Revitalisasi: apa yang dikerjakan dan kondisi lapangan

Pekerjaan revitalisasi monumen meliputi pemugaran struktur dan pemindahan sementara beberapa elemen arca. Poin utama dari proses itu adalah:

1. Pemindahan arca
– Kelima arca Patung Panca Dewata dipindahkan sementara ke lokasi yang dianggap aman selama pekerjaan berlangsung.

2. Pekerjaan pondasi dan struktur patung
– Selama revitalisasi, pondasi untuk patung, seperti Pondasi Patung Cok Pemecutan, tercatat mulai terlihat, menandakan adanya pekerjaan fisik pada dasar struktur monumen.

3. Pembukaan kembali dan peresmian
– Revitalisasi rampung dan monumen diresmikan pada 14 November 2025, menurut pengumuman resmi dari pihak pemerintahan daerah.

Informasi teknis rinci tentang anggaran, durasi per fase pekerjaan, atau penanganan konservasi arca tidak dicantumkan secara lengkap dalam ringkasan publik yang tersedia; hal-hal tersebut perlu dikonfirmasi lebih jauh melalui dokumen proyek atau pernyataan teknis instansi terkait.

Ruang edukasi dan elemen visual

Monumen dirancang untuk berperan sebagai ruang publik yang menyajikan narasi sejarah. Fasilitas yang dapat ditemukan pengunjung meliputi diorama dan instalasi interpretatif yang menyajikan kisah Puputan Badung menurut keterangan resmi. Beberapa poin terkait pengalaman pengunjung:

1. Narasi visual
– Diorama atau papan penjelas menempatkan peristiwa 1904–1906 dalam urutan kronologis yang dapat diikuti pengunjung.

2. Arca dan tata ruang
– Arca yang semula menghiasi area monumen diposisikan ulang selama revitalisasi; setelah pekerjaan selesai, arca-arca tersebut diposisikan kembali sesuai rencana konservasi.

3. Akses publik
– Monumen berada di lapangan kota sehingga dapat dijangkau oleh warga dan wisatawan yang mengunjungi pusat Kota Denpasar.

Keterangan tentang fasilitas pendukung seperti ruang pamer tambahan, jam kunjungan resmi, atau layanan pemandu tidak tersedia dalam ringkasan yang dipublikasikan; pengunjung disarankan memeriksa pengumuman lokal untuk informasi operasional terkini.

Makna simbolik dan konteks lokal

Monumen ini menandai peristiwa yang berkaitan dengan pertahanan Puri Denpasar dan respons rakyat Sanur terhadap tuduhan yang muncul setelah karamnya Kapal Srikomala. Penempatan monumen di Lapangan I Gusti Ngurah Made Agung menegaskan hubungan lokasi dengan kisah yang diperingati, mengingat kawasan itu menjadi pusat kegiatan publik dan upacara lokal.

Penggunaan monumen sebagai ruang edukasi publik dinyatakan oleh pemerintah daerah dalam keterangan proyek, sehingga narasi yang ditampilkan diarahkan pada penjelasan kronologis peristiwa dan tokoh-tokoh kunci seperti I Gusti Ngurah Made Agung.

Kesimpulan

Monumen Perjuangan Puputan Badung di Lapangan I Gusti Ngurah Made Agung direvitalisasi dan diresmikan pada 14 November 2025 sebagai penanda sejarah dan ruang edukasi tentang peristiwa Puputan Badung 1906, menurut pernyataan resmi Pemerintah Kota Denpasar. Proses revitalisasi melibatkan pemindahan sementara kelima arca Patung Panca Dewata dan pekerjaan pondasi yang terlihat di sejumlah titik kerja. Kronologi peristiwa yang dipamerkan mencakup rentang sejak insiden Kapal Srikomala pada 27 Mei 1904 sampai pertempuran besar pada September 1906, sebagaimana tercantum dalam dokumentasi sejarah yang dipublikasikan oleh pihak berwenang.